Kisah ini berawal ketika aku baru turun dari Kapal Fery
tujuan Pelabuhan Lembar-Padang Bae. Waktu itu pukul 01.00 AM, untuk pertama
kalinya aku menginjakkan kaki di pulau dewata bali.
Suasana Pelabuhan Padang Bae sangatlah ramai meskipun waktu
sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Puluhan Bus dan truk terlihat antre
menanti pemberangkatan Kapal menuju Pelabuhan Lembar, Mataram.
Diantara sesak kendaraan tersebut, aku berjalan mencari
kendaraan umum yang bisa aku tumpangi ke Kota Denpasar. Tiba tiba seseorang
datang menghampiriku
“ Mau kemana, mas?” tanyanya sambil memegang pundakku.
Sekilas aku perhatikan wajah orang itu terlihat sangar
dengan rambut gondrong dan badan kekar penuh tattoo. “ Ke Denpasar, pak” jawabku
singkat singkat.
“Saya antar ya, naik ojek” katanya menawarkan jasa kepadaku
“Tidak, terima kasih pak. saya sudah ada yang jemput”
jawabku berpura pura. Padahal aku memang butuh sekali kendaraan untuk menuju
Denpasar tetapi melihat penampilan orang tersebut membuatku merasa agak takut.
Sudah menjadi rahasia umum kalau kehidupan pelabuhan sangatlah keras dan orang
orangnya sangat kasar, jadi sangat manusiawi jika aku berusaha berhati hati
terhadap mereka.









