Tampilkan postingan dengan label Hunk Wallpaper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hunk Wallpaper. Tampilkan semua postingan

1 Feb 2012

Hitam Putih Kehidupan 7| Kembali Ke Asrama 2

21.53
Pelajaran pertama hari itu adalah Matematika oleh Pak Raka. Aku sebenarnya sangat menyukai pelajaran Matematika. Tetapi hari itu Aku merasa sangatlah bodoh. Sebuah soal sederhana mengenai statistik tak mampu ku jawab dengan benar. Pak Raka sendiri terlihat bingung dengan ketidakmampuanku menjawab soal darinya. Karena biasanya aku selalu bisa mengerjakan soal soal yang dia berikan.
Tidak hanya Pelajaran Matematika, hampir semua mata pelajaran pada hari itu tak ada yang menarik bagiku.
Begitu pulang sekolah, aku langsung merebahkan badan diatas dipan sambil terus memikirkan semua kesalahan yang sudah aku perbuat sehingga Amel di paksa pindah sekolah oleh ayahnya.
Tak sanggup berpikir terlalu kuat, akupun terlelap.
Jam 3 sore, aku terbangun karena merasa perutku keroncongan. Aku baru sadar kalau aku belum makan siang. Untungnya  sahabatku Ronny ternyata sudah menyiapkan jatah makan siangku di samping dipan.
“Makasih, Ron sudah bawain makan siangku” kataku mengucapkan Terima Kasih sama Ronny yang masih duduk di samping dipanku.

Hitam Putih Kehidupan 7| Kembali Ke Asrama

21.37
Pagi yang cerah, aku bersama ayahku bersiap siap untuk berangkat menuju Asrama. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah dua minggu aku kabur meninggalkan Asrama.
Setelah berpamitan dengan ibu, kusiapkan tas ransel berisi pakaian di pundakku. Di halaman rumah telah berdiri sahabatku Danar lengkap dengan seragam sekolahnya.
“Pagi, nar. Kamu koq belum berangkat sekolah” sapaku sambil meletakkan tas ranselku di Skuter ayahku.
“ini juga sudah mau berangkat koq. Cuma mau pamitan sama kamu dulu” katanya sambil langsung menjabat tanganku dan menepuk pundakku.
Ada rasa sedih yang menghampiri sanubariku kala Danar mengucapkan kata selamat jalan padaku. Entah kapan aku akan bisa bertemu dengan sahabatku itu lagi. Peraturan Asrama hanya membolehkan aku untuk pulang setiap akhir Ujian Semester. Waktu enam bulan pastinya akan terasa cukup lama.
Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Bahkan beberapa kali pertanyaan ayahku tak ku gubris. Aku sibuk dengan lamunanku mengenai sambutan teman temanku diasrama begitu melihat aku kembali.